Digitalnirvana’s Weblog

stay hungry stay foolish

memeilih reksadana

Posted by digitalnirvana pada Juni 23, 2011

Kiat Memilih Reksa Dana yang Baik
Erlangga Djumena | Senin, 30 Mei 2011 | 07:30 WIB

Dibaca: 11117

Komentar: 0

|

Share:

KOMPAS/RIZA FATHONI

Mencari informasi mengenai produk reksa dana.

KOMPAS.com – Bagaikan sebuah kendaraan, jika penggunaannya benar maka Reksa Dana (RD) akan membawa anda menjadi lebih kaya dikemudian hari. Berikut adalah tips yang dapat anda pertimbangkan agar tidak salah dalam memilih reksa dana.
1. Return atau kinerja pertumbuhannya secara historis, harus disadari bahwa kinerja masa lampau (historis) bukan merupakan jaminan bagi pencapaian dimasa mendatang (dapat lebih tinggi atau lebih rendah) namun return secara historis merupakan hasil kerja berjalan sehingga dapat dijadikan tolak ukur (benchmark) untuk mengukur kinerja reksadana mendatang. Return yang dimaksud adalah harus optimal, sesuai dengan tingkat resiko yang dihadapinya, contoh RD saham (RDS) lebih beresiko dibanding dgn RD campuran (RDC) dan RDC lebih beresiko jika dibandingkan dengan RD pendapatan tetap (RDPT) namun RDPT lebih beresiko dari RD pasar uang (RDPU).
2. Sharpe Ratio (SR), mengukur konsistensi dari kinerja return dalam jangka yg relatif panjang. Untuk menghitung ini wajib menghitung Standar Deviasi (SD) terlebih dahulu. Jadi excess returndari RD tersebut terhadap instrumen yang relatif bebas resiko (Sertifikat Bank Indonesia) dibagi dengan SD. Maksudnya adalah setiap RD pasti memiliki kinerja yang ber gejolak atau bervariasi, kadang memberikan keuntungan namun kadang juga menghasilkan kerugian, nah penyimpangan tersebut dapat dibuat standar atau disebut dengan standar deviasi (SD). Catatan (metode Risk and Return): SD semakin rendah berarti RD relatif aman, sebaliknya SR semakin tinggi berarti kinerja relatif lebih baik.
3. Portfolio, adalah kumpulan alokasi aset dari RD tersebut, evaluasilah apakah memiliki likuiditas yang relatif tinggi, untuk portfolio obligasi dilihat ratingnya, untuk saham sebaiknya dilihat apakah termasuk dalam LQ45 atau masuk dalam katagori Kompas 100. Mengapa demikian karena saham-saham yang ada dalam kelompok tersebut merupakan saham yang memiliki likuiditas yang tinggi, serta nilai kapitalisasi pasar yang besar, juga merupakan saham-saham yang memiliki fundamental dan kinerja yang baik.
4. Jumlah Dana Kelolaan atau Asset Under Management (AUM) merupakan cerminan kepercayaan masyarakat terhadap RD tersebut (sesuai dengan lamanya RD dan kecanggihan tenaga pemasar RD tersebut tentunya). Kalau dari sudut pandang saya faktor pertumbuhan dana juga harus diperhatikan, sebaiknya kita minta data pertumbuhan AUM terlebih dahulu selain kita lihat perkembangan returnnya dalam kurun waktu tertentu. Perlu dicatat bahwa semakin besar AUM maka petumbuhan return berpotensi melambat.
5. Komposisi investasi yg dimaksud adalah harus sesuai dengan yang tertulis didalam Prospektus RD tsb. Beberapa RD (tidak banyak) kadang melanggar batas komposisinya walau hanya sedikit. Ada hal menarik yang harus diperhatikan yakni ketentuan Bapepam minimal 2 persen dari AUM harus berbentuk kas.
6. Biaya, perhatikan biaya masuk (subscription fee), biaya managemet, biaya switching serta biaya keluar (redemption fee). Biaya disini bukan sekedar pernik tetapi sangat mempengaruhi kecepatan pertumbuhan dana anda dalam kurun waktu yang panjang.

Lalu yang juga tidak kalah penting adalah pemilihan jenis reksa dana tersebut haruslah sesuai dengan jangka waktu investasi yang kita inginkan, sebagai contoh:
1. Jangka waktu sangat pendek yakni kurang dari 1 tahun gunakan reksa dana pasar uang (RDPU);
2. Jangka waktu pendek yakni antara 1 hingga 2 tahun gunakan reksa dana pendapatan tetap (RDPT) dan dapat sedikit dikombinasikan dengan reksa dana campuran (RDC);
3. Jangka waktu menengah yakni antara 2 hingga 5 tahun gunakan reksa dana campuran (RDC) dengan kombinasi pada reksa dana saham (RDS);
4. Jangka waktu panjang yakni diatas 5 tahun gunakan reksa dana saham (RDS);

Jika kiat tersebut dilakukan dengan konsisten maka perkembangan dana anda berpotensi besar untuk tumbuh secara positif. Selamat melakukan investasi pada reksa dana dengan benar. (Taufik Gumulya, CFP®/Financial Planner, CEO TGRM Financial Planning Service)

rgds
leo

Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »

“Kesenjangan Digital: Krisis atau Mitos ?”

Posted by digitalnirvana pada Juli 25, 2009

“Kesenjangan Digital: Krisis atau Mitos ?”

oleh : Donny B.U., M.Si. *

Mampukah kita (akhirnya) menerima kenyataan bahwa kesenjangan digital adalah isu science fiction semata yang diciptakan oleh sekelompok eksklusif manusia-manusia pemuja teknologi informasi (TI)? Ya memang, kesenjangan digital, atau kalau mau dikembalikan ke bahasa nenek-moyangnya adalah digital divide, kerap menjadi “bumbu penyedap” banyak pihak ketika berbicara di depan khalayak.

IT paranoid? IT phobia? Bisa ya, bisa tidak. Tergantung dimana kita berpijak dan ke arah mana kita memandang. Dalam majalah Newsweek edisi 25 Maret 2002, ada satu artikel menarik yang berjudul “Debunking the Myths of the Digital Divide”. Menurut artikel tersebut, kesenjangan digital (akhirnya) hanya dipahami sebagai gap antara pemilik/pengguna teknologi (the haves) dan mereka yang tidak memiliki/menggunakan teknologi (the have nots). Kaum the have, saya yakini benar, sebagai pihak pertama-tama mengada-adakan apa yang kita kenal sebagai kesenjangan digital tersebut.

Mari kita lanjutkan sedikit dari artikel Newsweek tersebut. Artikel tersebut mengutip penelitian yang dilakukan oleh David Card, ekonom dari University of California dan John DiNardo, ekonom dari University of Michigan. Menurut Card dan DiNardo, ternyata komputer menyebabkan semakin melebarnya rentang gaji antara yang tertinggi dengan yang terendah. Penjelasannya begini, peningkatan penggunaan komputer di berbagai aspek pekerjaan meningkatkan kebutuhan tenaga kerja yang high-skilled yang notabene tentu akan membutuhkan gaji yang lebih tinggi. Di lain pihak proses komputerisasi yang dapat melakukan proses-proses pekerjaan rutin, mengurangi kebutuhan tenaga kerja yang low-skilled dan tentu saja akan sesuai kaidah permintaan-penawaran hukum ekonomi, gaji mereka pun akan semakin rendah.

Tentu saja, Card dan DiNardo tidak serta-merta menyalahkan komputer untuk fenomena tersebut. “Dengan peningkatan penggunaan komputer, rentang gaji akan terus melebar jika ternyata diikuti pula dengan terjadinya perubahan kebutuhan terhadap skill dari tenaga kerja,” ujar mereka. Masuk akal bukan? Mari kita buka mata dan hati, serta lihat sekeliling tempat kita bekerja saat ini. Apakah hasil penelitian tersebut ternyata benar-benar terjadi?

“The digital divide suggested a simple solution (computers) for a complex problem (poverty). With more computer access, the poor could escape their lot. But computers never were the souce of anyone’s poverty and, as for escaping, what people do for themselves matters more than what technology can do for them”, demikian penekanan pada artikel pada majalah Newsweek tersebut.

Sebenarnya, judul artikel yang sedang Anda baca ini saya “pinjam” dari sebuah judul buku yang saya fotokopi dari perpustakaan British Council Jakarta. “The Digital Divide, Facing a Crisis or Creating a Myth?”. Buku tersebut terbitan MIT Press Sourcebooks tahun 2001. Di dalamnya ada 20 artikel menarik dari penulis yang berbeda, mencoba menggambarkan apa sih sebenarnya Digital Divide itu. Saya pinjam, saya fotokopi, saya baca, dan saya makin ragu. Sebagian tulisan tersebut ada yang menyatakan bahwa kesenjangan digital memang benar-benar ada, sebagian yang lain menyatakan sebaliknya. Kedua belah pihak sama-sama berlandaskan pada angka-angka statistik.

Sekedar intermezzo, jangan mudah percaya dengan angka statistik. Sesekali, ketika Anda ke toko buku, carilah buku berjudul “Berbohong dengan Statistik”, tulisan Darrel Huff dan terbitan KPG tahun 2002. Bacalah di tempat, kalau Anda tidak ingin membelinya, maka Anda akan paham mengapa saya selalu kritis dan menganjurkan untuk tidak mudah percaya angka-angka statistik.

Kembali ke pokok persoalan. Dengan mengkomparasi pengalaman di lapangan dan berlandaskan beberapa pemahaman dari berbagai literatur, akhirnya muncul dalam benak saya beberapa pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya retoris, atau tidak perlu jawaban (kecuali jika Anda nekat untuk menjawabnya, silakan layangkan e-mail kepada saya). Pertanyaan saya sebenarnya sangat mendasar, karena dengan pertanyaan tersebutlah sebenarnya kita bisa mencoba menggali kebenaran dari kesenjangan digital. Berikut ini pertanyaan saya:

==========
a)
Kalau saya tidak punya ponsel dan Anda punya, apakah antara saya dan Anda telah terjadi kesenjangan digital? Atau kalau Anda tidak punya komputer dan saya punya Pentium IV, terjadikah kesenjangan digital? Kalau ya, apakah kita bisa yakin ini bukan propaganda para penjaja ponsel atau komputer untuk melariskan dagangannya dengan meracuni pikiran saya untuk membeli ponsel atau pikiran Anda untuk membeli komputer yang lebih canggih daripada yang saya miliki?

b)
Kalau profesi saya dokter, dan Anda adalah ahli komputer, lalu saya tidak menggunakan komputer seperti Anda, apakah terjadi kesenjangan digital? Kalau iya, untuk menjembatani digital divide itu apakah saya harus punya komputer juga? Kalau demikian caranya, kalau Anda tidak punya stetoskop mengapa tidak Anda tidak disarankan memiliki stetoskop juga? Apakah saya benar-benar membutuhkan komputer sebagaimana kebutuhan Anda?

c)
Kalau kesenjangan digital yang dimaksud adalah antar sesama profesi, bukankah lebih tepat kesenjangan informasi? Misalnya petani daerah A lebih paham tentang teknik terbaru pertanian ketimbang petani daerah B, lantaran petani A banyak mendapatkan informasi pertanian dari Internet. Menurut saya, masalahnya bukan terletak pada punya atau tidaknya komputer dan akses Internet, tetapi tersedianya alternatif akses menuju ke informasi pertanian tersebut. Tidakkah ada cara lain selain menggunakan komputer dan Internet untuk menyamakan ilmu para petani tersebut? Karena tidak semua petani berniat, memiliki waktu atau mampu mengadopsi TI.

Apakah dengan memasang warnet ke daerah B lalu sim-salabim petani di daerah tersebut dapat menjadi lebih maju atau setidaknya setara dengan petani daerah A? Bukankah petani lebih membutuhkan alat membajak dan ilmu pertanian ketimbang diajari komputer dan Internet? Benarkah biaya mendidik petani agar paham komputer dan Internet setara dengan nilai hasil pertaniannya? Ataukah biaya pendidikan komputer tersebut memang lebih murah ketimbang mendatangkan penyuluh lapangan yang secara pro-aktif membimbing para petani? (silakan ganti kata-kata “petani” dan “pertanian”tersebut dengan profesi lainnya, misalnya “guru” dan “mengajar”, “dokter” dan “pengobatan”, dan sebagainya).

d)
Kalau kesenjangan informasi (konsep kesenjangan digital saya anggap tidak relevan lagi) adalah antar dua profesi yang berbeda, apakah mungkin terjadi kesenjangan informasi kalau alat produksi yang digunakannya berbeda? Anggaplah saya tiap hari menggunakan komputer (dan internet) sebagai bagian dari kehidupan dan mata pencaharian saya. Lalu apakah saya bisa secara serta-merta mengatakan bahwa komputer itu sangat penting kepada rekan-rekan saya yang profesinya adalah sebagai petani, guru atau dokter? Saya hanya bisa mengatakan kepada mereka bahwa komputer adalah dapat untuk mengakses informasi lebih dalam tentang suatu keilmuan, tetapi saya tidak bisa memaksakan bahwa kesenjangan informasi harus dijembatani dengan produk digital atau TI.
==========

Kembali kepada fakta yang ada, sekarang kita dikejar oleh ketakutan akan semakin melebarnya kesenjangan digital antar siswa, antar pekerja, antar sekolah, antar institusi bahkan antar negara. Kita berlomba-lomba mengadopsi teknologi terkini, at any cost. Tidakkah terpikirkan oleh kita bahwa nafsu kita tersebut terkadan membuat kita memicingkan mata dan mencibirkan mulut kepada kaum the have nots? Kita kerap memandang lebih rendah derajat mereka yang tidak menggunakan komputer ataupun ponsel.

Gaptek (gagap teknologi) istilah kita! Labelisasi gaptek dan pemahaman buta tentang kesenjangan digital memperburuk kondisi. Selain seperti yang ditulis oleh majalah Newsweek tentang semakin melebarnya rentang gaji dan semakin rendahnya gaji orang-orang yang tidak mampu memiliki keahlian komputer atau kerjanya tergantikan oleh komputer, hal tersebut membuat banyak pihak di Indonesia yang berjuang mendapatkan ilmu dan perangkat komputer. Keluarga, orang tua, anak, sekolah, guru dan murid yang belum atau belum perlu menggunakan komputer dan Internet, akhirnya harus tertatih-tatih berupaya mendatangkan “jendela dunia” digital tersebut dihadapan mereka, karena mereka tidak diberikan opsi untuk memilih alternatif untuk “tidak membeli” atau “tidak menggunakan”, perangkat digital apapun bentuknya, berikut dengan solusi alternatifnya.

Dari sistem utangan (dari level ngutang ke tetangga sampai level ngutang ke lembaga donor dan negara lain) hingga sistem cicilan (dari level ngridit sampai level kartu kredit), dilakukan demi memiliki seperangkat alat digital yang sebenarnya belum benar-benar mereka butuhkan. Siapa yang paling diuntungkan?

Ijinkan saya menutup tulisan ini dengan mengutip bagian pengantar dari buku The Digital Divide.

“No technology, in itsef, will ever eliminate the diffrences that arise among people who effectively utilize a technology and those who do not. Internet content can be created to allows everyone the opportunity to leard read, and as a readers, take full advantage of the information resources that exist and are being created. The divide between those who can read well and those who cannot is a real divide.”

Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »

test blogging via email

Posted by digitalnirvana pada Juli 19, 2009

Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »

Testing axis

Posted by digitalnirvana pada Juli 18, 2009

Udah lama nggak ngeblog mau cerita dikit aja soal memilih internet unlimited. Stay tuned OK.

Ditulis dalam dunia IT | Tinggalkan sebuah Komentar »

Essential software Treo 650

Posted by digitalnirvana pada Januari 24, 2009

DI awal tahun 2009, Palm mengejutkan publik dengan menelurkan produk anyar dan OS anyar pula yakni Palm Pre. Jauh sebelumnya Palm pernah membuat smartphone yang sampai kini menjadi salah satu produk terbaik Palm yakni Treo 650. Akhirnya setelah menunggu 4 tahun, saya berkesempatan untuk bisa benar-benar memakai dan memiliki smartphone yang bagi penggemar Palm menjadi barang wajib ini.
Secara umum, dari segi performa menurut saya Treo 650 masih bisa diandalkan, bahkan dengan gprs on terus aja masih bisa dipakai hingga 1.5 hari non stop. Layarnya jernih dan terang, jauh melebihi Zodiac. Masuk akal juga, mungkin ZOdiac mencoba mengurangi backlight layar karna ingin menghemat baterai sebab ukuran layarnya yang besar. Mungkin sudah banyak diulas tetapi saya ingin melist beberapa software menarik yang sudah selayaknya dijejali ke Treo 650.
1. Ultimatephone, launcher satu ini adalah salah satu alternatif untuk phone apps launcher selain Takephone. Takephone menurut saya agak lebih rumit. UP mampu memberikan kesan lebih simple dan tata interface yang lebih cool. Sekilas mirip seperti tampilan di Blackberry seri 71xx.
2 2day, adalah aplikasi PIM yang bisa jadi alternatif dengan kemampuan dan fungsionalitas yang cukup baik. Lebih ringan dari Agendus tentunya dan skinable.
3. Butler, so pasti udah jadi software wajib buat mengoptimalkan fungsi tombol, alarm, LED dan fungsi lainnya
4. Keycaps dan Fieldplus aplikasi ringan untuk mempercepat mengetik dan memungkinkan one hand operation lebih maksimal
5. Palmrevolt, skin juga yang bisa jadi alternatif dibanding launcher-launcher yang memakan resources. Jika ingin bisa mencoba aplikasi lain dari yang simple seperti SkinUI, Khroma atau yang berat seperti Megaluncher, Zlauncher etc
6. Backupman udah jadi hal wajib agar data-data bisa dibackup dengan baik
7. Uninstall Manager merupakan aplikasi untuk uninstall program di Palm dengan lebih baik dibanding aplikais standar yang ada
8. Untuk chatting saya kira IM+ adalah yang terbaik saat ini sayangnya sulit mencari inulnya di web. Alternatif tentunya Mundu yang menurut saya tidak begitu stabil dan sering disconnect. Webmessenger juga bisa dipakai sebagai aplikasi freeware sayangnya tidak mendukung background operation
9. Powerman, sangat berguna jika mau pakai Webmessenger atau Mundu dengan kondisi always on
10. Browser bisa memakai browser super ringan seperti Xiino. Saya sendiri jarang memakai Blazer apalagi Opera yang memakan resources karena berjalan di Java
11. Untuk email client saya sudah mencoba membandingkan Versamail, Snapper dan Chatteremail. Menurut saya Chatteremail memiliki kelebihan karena mampu mengirim email real time layaknya Blackberry, sungguh keren namun juga menguras batere. Snapper juga bisa menjadi alternatif sebab bisa menarik email rutin setiap 5 menit.
12. Banyak lagi software lain sesuai kebutuhan. Software di atas lebih banyak untuk kebutuhan sekedar chatting dan mengoptimalkan fungsi Treo 650. Selamat mencoba. Sedikit saran karena tambang software sudah semakin berkurang, bisa ke sini :
1. http://www.4shared.com/dir/3954905/32c3b6f1/Palm_Apps.html
2. http://www.c4pda.com/
3.http://forum.gsmhosting.com
4. http://www.freewarepalm.com/
5. http://mytreo.net

Ditulis dalam Review gadget | Bertanda: , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Palm Pre….hebat tapi bukan ini yang saya cari

Posted by digitalnirvana pada Januari 11, 2009

Awal 2009 Palm memperkenalkan produk terbarunya yakni Palm Pre. Pre merupakan sebuah gadget dengan semua bell & whistle yang cukup mengagumkan. Pre bahkan dinilai mampu mencuri fitur dari iphone dan bahkan menyempurnakannya.
Smart, tetapi dengan berbagai kecanggihan yang dimilikinya saya ragu kalau Palm membuat produk yang selama ini saya kagumi karena simplicity. Saya punya Tapwave Zodiac, Treo 180 dan Treo 650. Sudah sangat lawas memang kelihatan seperti produk yang layak dimusiumkan melihat produk-produk PDAphone di pasaran saat ini. Hanya, saya selalu terkagum-kagum dengan kesderhanaan dan kestablian Palm OS sejak dulu.
Saya kira perjalanan webOS masih akan cukup berat terutama karena:
1. Harus bersaing memperebutkan developer yang saat ini masih setia dengan iphone, WM, Symbian atau blackberry
2. Secara di atas kertas saya pikir hampir nothing new. Dibanding dengan produk Palm sebelumnya pastinya sebuah lompatan tetapi jika dibanding dengan gadget lain di pasar hmmm…..
3. Palm harus lebih kreatif untuk menjembatani Palm loyalist yang masih setia dengan Palm OS Garnett dan generasi sebelumnya. Emulator harus dibuat agar aplikasi Palm OS dapat jalan di webOS
TUgas masih banyak memang..tetapi tetap salut untuk Palm….Saya pribadi tetap berharap agar segera dibuat penerus Pre dalam bentuk candybar yang lebih cantik dari jajaran Treo saat ini yang menurut saya agak kurang gagah.

Ditulis dalam Review gadget | Bertanda: , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Tahun Baru prihatin

Posted by digitalnirvana pada Januari 11, 2009

2009 sudah datang…
2008 adalah tahun yang cukup berkesan buat saya. Terutama saya berhasil melakukan berberapa hal baru yang menurut saya menjadi ha yang diinginkan dari dulu. Dengan meluncurnya web pekenbali saya berhasil mewujudkan cita-cita menjadi netpreneur. Jalan masih panjang dari kesuksesan memang cuman ini sudah langkah yang saya anggap cukup solid. Sedikit usaha dan keberanian untuk memulai sesuatu. Ini yang mahal.
Kedua di akhir tahun ada kesempatan untuk menjadi trainer lepas. Gak banyak juga ngasilin duit, tapi ini mungkin kiprah awal untuk menjadi trainer siapa tahu suatua saat nanti akan berkembang lebih lagi.
Libur akhir tahun merupakan hal yang menyenangkan, perjalanan melelahkan dengan bus bisa ditebus dengan nikmatnya alam pedesaan. Simpel banget untuk malam tahun baru kami lewatkan dengan manggang ikan aja di desa.

2009???

Hmm, ada beberapa yang harus diteruskan di tahun ini. Terutama untuk lebih membawa pekenbali ke arah yang lebih baik, mengerjakan beberapa side job di luar kantor, itu aja harapan yang terbesar.Satu hal lagi..the road to Bali? Suatu agenda hidup yang cukup besar. Mari berdoa….

Ditulis dalam Personal | Tinggalkan sebuah Komentar »

How to Give a Killer Presentation

Posted by digitalnirvana pada Desember 24, 2008

It’s hard to imagine your career going anywhere unless you can deliver an effective presentation. Unfortunately, most of us are born without the presentation gene. I have no idea why, but for most professionals, presenting is a real struggle.
They stand there, like they’re glued to the floor, with their 90-slide presentation with a dozen bullets and sub-bullets and a book of text on each slide. Then they complain that executives and salespeople make all the money.
I’ve sat through presentations that were so bad I wanted to strangle the guy just to put him and the audience out of their misery. I’ve also seen presentations that were so inspiring they changed my life.
Connecting with an audience, communicating your vision and passion for a subject, can be a beautiful experience. It’s also a rare opportunity to make an impression that might impact your future. It can either be a gateway or a roadblock to professional growth. Which one is entirely up to you.
As for me, I’ve been professionally trained, plus I’ve had a few decades of practice. Here’s what I’ve learned.
Ten Rules For Delivering a Great Presentation
Developing the pitch. Start with your main point of view and a handful of take-aways. Then build a storyboard around that, one slide per thought. Keep the number of slides down and allow a few minutes per slide.
The icebreaker. Start with something to break the tension (yours and theirs): a welcome gesture, engaging or humorous anecdote, graphic or video, or some combination. Keep it relevant and appropriate. Don’t tell a joke.
The old axiom. Old advice, but it works: First tell the audience what you’re going to tell them, then tell them, then tell them what you told them.
Don’t read what’s on the slide. Know the pitch cold (without having to look except for a brief cue) and speak in your own words. If you (rarely) want the audience to read what’s on a slide, look at it and read silently along with them.
Engage the audience. Ask questions. If they don’t respond, try offering an answer and asking for a show of hands or ask easier questions. Make the audience part of the experience.
Be accessible. Don’t stand behind a podium. Use a wireless mic if needed. Get close to the audience and move from place to place while maintaining eye contact, but only from time to time. Do not bounce around like a ping-pong ball.
Pause for effect and emphasis. Practice being comfortable with silence for two or three seconds. It’s the most dramatic way to make a point. Avoid ahs, uhs, and other fillers of uncomfortable silence; they’re annoying and detract from your presence.
Make eye contact. But only for a few seconds per person. Too short and you’ll fail to engage; too long and it becomes uncomfortable. Don’t bounce your eyes around constantly.
Use hand gestures. They’re engaging and interesting. But when you’re not, keep your hands at your sides. Don’t fidget, hold onto things, or put your hands in front of you, behind you, or in your pockets. Avoid nervous habits.
Don’t block the audience’s view. Don’t step in front of the screen or block it from view, except for the occasional walk-across. Gesture with your hand, but don’t touch the screen. Don’t use a pointer unless you must.
Remember, you weren’t born with this ability; it takes practice. Videotape yourself presenting to an empty conference room or get someone with experience to watch you and provide feedback. If your company hires a speech coach for executives and up-and-comers, get in on it.
Most importantly, be patient with yourself. Finding your own style where you feel comfortable comes with experience. It may take a few years, but it’s worth it. Nothing can boost your career like being able to give a killer pitch.

Ditulis dalam Consulting | Tinggalkan sebuah Komentar »

Dokar di Denpasar kian Terpinggirkan *Penghidupan Kusir Merana

Posted by digitalnirvana pada Desember 17, 2008

diambil dari bisnisbali.com

Pada era 1970 hingga 1999 –an transportasi dokar di Denpasar turut memberikan variasi berbagai jenis transportasi di Ibu Kota Propinsi Bali ini.

Kini, transportasi yang bisa memuat empat hingga lima orang ini kian terpinggirkan, bahkan seakan hilang di tengah himpitan arus globalisasi dan kemajuan Kota Denpasar.

Lalu, bagaimana nasib kusir dokar saat ini?. Berikut penelusuran BisnisBali.

PADA era 1970-1980-an dokar menjadi angkutan primadona masyarakat Denpasar. Jumlahnya lebih dari 400 unit. Pada zamannya ini dokar menjadi lahan bisnis menjanjikan di sektor transportasi.

Tak heran, satu kusir dokar bisa memiliki lima kuda, bahkan memiliki karyawan untuk menjadi kusir sewaan. Kawasan mangkal pun terbuka luas dari Terminal Tegal, Pasar Badung, Kumbasari, Indra hingga Pasar Kreneng.

Namun semuanya itu kini tinggal kenangan. Memasuki era 2000-an karena perkembangan teknologi, dokar kian tersisih karena hadirnya sepeda motor dan mobil.

Angkutan umum ini diambil alih angkutan umum, mobil dan sepeda motor pribadi. Kawasan Terminal Tegal yang awalnya menjadi tempat mangkal dokar-dokar di Denpasar, kini tiada lagi.

“Tidak hanya itu, memasuki 2007-an Persatuan Dokar di Denpasar (Perdoden) pun kini sudah tidak ada lagi. Ketua dan anggota (beberapa kusir) kini banyak beralih profesi menjadi pedagang,” kata Husnan, salah satu kusir dokar yang tetap menggantungkan hidup sebagai kusir di kawasan Pasar Badung ini.

Husnan dan rekan-rekannya yang tidak lebih dari 21 kusir di Denpasar ini, nasibnya kini kian merana. Mengapa tidak? Dulunya, dokar menjadi sarana transportasi yang banyak dilirik masyarakat, tetapi kini jarang dilirik.

Meski sempat menjadi sarana wisata city tour Kota Denpasar, tetap tidak memperbaiki nasib pengemudi dokar.

“Saat ini jarang sekali wisatawan mancanegara keliling Denpasar dengan menyewa dokar. Tumpuan hidup kita makin sulit saja,” keluhnya.

Belum lagi areal parkir khusus dokar tidak ada, makin membuat dokar terpinggirkan. Saat sekarang, kata Husnan, penumpang dokar hanyalah sebagian kecil dari pedagang maupun pembeli di pasar-pasar tradisional. Sedikit masyarakat yang mau memanfaatkan jasa angkutan dokar.

Dalam sehari Husnan menarik dokar dari pukul 08.00 – 18.00 Wita, diselingi pulang sebentar untuk istirahat sekaligus memberi makan kuda. Tarif dokar sangat murah, berkisar Rp 5.000 – Rp 10.000 satu kali jalan tergantung jauh dekatnya tujuan.

Satu dokar bisa menampung sampai tiga penumpang. Dari Pasar Badung sampai sekitar alun-alun (Lapangan Puputan Badung) atau ke kawasan Kampung Jawa hanya Rp 5.000. Sementara sampai ke kawasan Sudirman atau Sanglah cukup dengan bayar Rp 10.000.

Rata-rata ia membawa pulang Rp 30.000- Rp 35.000 per hari. Uang tersebut di antaranya untuk membeli bahan makanan kuda, seperti rumput dengan harga Rp 10.000-Rp 15.000 per karung.

“Dengan penghasilan sebesar itu, bagaimana kita bisa hidup layak,” tuturnya.

Kondisi serupa dikatakan Nengah Mertha, pengemudi dokar di Denpasar yang masih menaruh tumpuan hidup sebagai kusir. Kendati hidup sebagai kusir dokar merana, ia tetap bertahan.

Dalam pikirannya, Kota Denpasar sebagai salah satu daerah pariwisata yang banyak dikunjungi wisatawan, pasti memerlukan sarana transportasi tradisional sebagai pendukung kepariwisataan di Denpasar.

Karenanya ia berharap, bantuan pemerintah untuk mau memikirkan nasib kusir dokar.

“Salah satunya menyiapkan areal parkir dan jalur khusus untuk dokar saja atau selalu melibatkan dokar dalam berbagai kegiatan di Denpasar,” sarannya.

Bila ini bisa diberlakukan, harapannya transportasi dokar masih bertahan di tengah majunya era globalisasi dan transportasi lain yang lebih cepat. *dik

Ditulis dalam Obrolan bebas | Bertanda: , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Sayonara Zaurus

Posted by digitalnirvana pada Desember 17, 2008

Setelah laam berkecimpung di dunia PDA dengan menelorkan Zaurus line-up yang berbasis Linux. Sharp akahirnya mengumumkan untuk membunuh seri Zaurus. Cukup memprihatinkan kalau saat ini PDA biasa telah benar-benar digerus oleh PDAphone dan smartphone. Kompetisi pun demikian ketat.
Yang bisa dipetik dari hal ini adalah bahwa suatu inovasi yang hebat pun tidak akan abadi, inovasi atau mati. Sebab pasar begitu demanding dengan kebutuhan yang makin meningkat dan perangkat konvergen adalah jawabannya. Meski demikian saya tetap berpikir bahwa PDA punya niche market sendiri sebab bial dilihat PDAphone dalam beberapa hal belum dapat menandingi kemampuan PDA biasa terutama dari segi konsumsi daya.

Ditulis dalam Consulting | Bertanda: , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.